Friday, May 4, 2012

(4 Mei 2012) Alter Ego Anak Jalanan Alter Ego Indonesia #31harimenulis

Si kecoak lagi bingung, kawan. Negara ini ternyata punya alter ego ya? Kita dikenal baik karena budayanya yang beragam dan dikenal baik juga karena level kehidupan kita yang jauh dari kata APIK. Bahkan kecoak juga rada setuju dengan kata-kata Justin Bieber nyebut Indonesia sebagai random country. Bukan karena kecewa soal rekaman, tapi karena susah untuk menghubungkan Indonesia dengan sesuatu yang APIK di mata dunia. Tapi si kecoak tidak akan menyalahkan pemerintah, kok. Saling menyalahkan juga tidak akan kelar masalahnya. Istilah kerennya NOTA (No Action Talk Only).

Entah kenapa tadi malam setelah nyari makan (emang ada yang buang?) di sekitar GSP iseng-iseng lihat anak kecil yang lagi ngemis di perempatan Jalan Teknika. Sambil nunggu teman yang asyik jeprat-jepret suasana malam (yang bakal lebih lama dari 2 jam), si kecoak terus memperhatikan dan terus memperhatikan. Bayangkan, jam setengah sebelas malam. Ketika (sebagian dari) kita menikmati hangatnya suasana di rumah atau menikmati tidur sampai-sampai kalau ada tsunami tidak tahu, si anak malah lari kesana-kesini, mencari sekeping dua keping uang lima ratusan, syukur uang seribuan, yang mereka dapatkan dari jalan (memang banyak orang yang ngasih duit ke pengemis, tapi lebih banyak lagi yang cuma lemparin duit ke jalan, entah kenapa).

Lampu hijau menyala, si anak itu beristirahat di trotoar sebelah selokan Mataram sambil menghitung duit sisa dari jalan tadi. Langsung si kecoak berdiri, lihat kiri-kanan, nyebrang jalan, dan langsung dekatin anak itu. Basa-basi sedikit, dan kecoak mulai tanya-tanya.

“Lama dik di jalan kayak gini?”

“Ya lumayan, Mas. Yang penting cukup buat makan aja.”

‘Gak pengen sekolah?”

“Pengen, Mas. Tapi gak ada duit. Hasil ngemis ini aja Cuma cukup buat menuhin kebutuhan sehari-hari.”

“Oh gitu, iya juga dik. Ya sudah sekarang ikut, yuk?

“Kemana?”

“Makan, pasti kamu lapar. Aku yang bayar.”

“Benar, Mas?”

“Iya, yuk?”

Selama makan, si anak terus cerita dan cerita sampai-sampai dia banyak bicara sedikit makan. Dia cerita tentang hidupnya, keluhnya, kerasnya hidup di jalan, semuanya. kecoak mulai memperhatikan (lebih tepatnya belajar) tidak peduli bagaimanapun dirimu, mau kamu bajingan, mau kamu baik, mau kamu pengusaha, mau kamu pengemis, kamu selalu punya hal yang membuat kamu rapuh. Jamannya peribahasa “mens sana in corpore sano” sudah tidak berlaku lagi disini, karena pikiran dengan tubuh memang membutuhkan “insentif” yang berbeda. Si kecoak juga mendapatkan pelajaran jangan selalu bergantung dengan orang lain. Yang penting bagaimana kamu berdiri dengan kakimu sendiri.

Setelah makan, si kecoak dan si anak jalanan itu langsung berpisah. Kecoak pun sudah dijemput Pedro, temennya untuk pulang.

“Dro, kalau aku sudah jadi orang kaya, ingatkan aku untuk buat sekolah khusus anak jalanan.”

Thursday, May 3, 2012

(03 Mei 2012)Because blablabla is too mainstream #31harimenulis

Kali ini si kecoak lagi kena marah sang kakak, kawan. Tulisan si kecoak di blog dikira hanya asal buat dan tak ada yang punya kualitas. Si kecoak yang baru saja setengah-sadar-dari-tidurnya-dan-masih-beriler hanya bisa manggut-manggut dengar telepon si kakak yang marah-marah nun jauh disana. Maklum, kakaknya kecoak juga dulu nongkrongnya di jurusan ilmu komunikasi, almamaternya sama pula dengan si kecoak. Sering juga ada pikiran, sekalian aja si kakak jadi dosen di ilkom. Tapi kalau itu sampai terjadi, maka aku harus mulai memikirkan untuk ikut snmptn yang akan datang. Hahaha...

Tapi yang tidak tahu dari kakaknya si kecoak adalah apa yang dirasakan saat tulisan itu dibuat. Apa yang si kecoak rasakan, yang kecoak pikirkan, atau apa yang kecoak masukkan dari tulisan yang memang tidak jelas itu. Memang tulisannya tidak karuan dan membuat dokter mata kebanjiran pasien karena matanya pada sakit saat melihat tulisannya si kecoak. Tapi si kecoak cuma ingin menulis dengan gayanya saja. Kadang ingin ngelucu, kadang ingin serius, kadang tidak jelas. Karena apa? Karena menulis adalah dunia yang bisa kita sisipi dengan mimpi dan bisa kita wujudkan tanpa menyakiti orang lain.

Lalu demi apa si kecoak rela berjam-jam brainstorming di depan laptop, nulis entri baru di blognya, nulis tulisan yang tidak jelas itu. Untuk apa? Ya seperti dibilang tadi, disitulah si kecoak bisa jadi walikota, jadi presiden, jadi tukang becak, jadi pengemis, atau jadi apapun yang si kecoak mau. Disitulah si kecoak bisa jadi pahlawan, pemenang, pecundang, penjahat, ataupun memiliki nasib apapun. Intinya si kecoak bisa jadi Tuhan disitu tanpa harus menghukum dan dihukum orang lain.

Because speaking is too mainstream.

Because listening is too mainstream.

Because writing is too mainstream.

Tepatnya, writing on-the-line is too mainstream.

Tuesday, May 1, 2012

(2 Mei 2012) Surat Beberapa Tahun yang Lalu #31harimenulis

Hai Hegemoni,

Bagaimana kabarmu di periode hidupmu yang sekarang? Apa mulai terpikirkan tawaranku untuk melanjutkan hidupmu yang akan datang? Atau kau masih terlalu naif dengan datang padaku sambil tersenyum dan berkata, “aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir.” Jujur, aku akui kesabaranmu melebihi Sisifus yang dihukum mengangkat batu raksasa ke atas gunung hanya untuk dijatuhkan lagi kebawah. Menurutku itu sangat ironis. Seperti hidup kita yang diangkat oleh nasib tetapi dijatuhkan juga oleh nasib.

Aku lupa, seperti apa hidupmu disana? Hidup memang tidak semudah yang kita bayangkan ya? Aku jadi ingat kata kata dari Albert Einstein “everything should be made as simple as possible.” Dan aku tidak bisa munafik dengan kebenaran pernyataan itu. Hidup sudah dibuat mudah. Sesusah apapun hidup tapi pasti diringkas dengan mudah oleh nasib. Agar hidup kita berwarna, agar hidup kita tidak hanya terdiri antara ada dan tidak ada, agar hidup kita terisi dengan sesuatu yang sering kita sebut dengan ketidakpastian, sesuatu yang sebenarnya absurd tetapi yang memberikan manusia pekerjaan, profesi, dan terlebih lagi, kehidupan. Ya, manusia memang hidup dari ketidakpastian, seperti ketidakpastian apakah ayam atau telur dulu yang muncul di bumi. Dan terakhir, kita tidak tahu untuk apa hidup.

Jangan khawatir, semua yang ada disini tidak pernah jauh dari kamu. Jarak hanyalah sebuah kenyataan. Tapi kita? Kita tidak peduli dengan kenyataan. Kita ada karena ke-tidak-ada-an kita. Karena itu, hiduplah sebebas yang kau mau dalam keterikatan ini. Empat porosmu ini akan selalu hilang dalam nyata tapi selalu muncul dalam fana.

Selamat menjadi naif, dirimu yang kubenci tetapi kukagumi.

(1 Mei 2012) Lika Liku Orang Pintar #31harimenulis

Lama sekali tidak menyentuh ini blog. Disamping sibuk kuliah (yang isinya cuma tidur mulu di kelas), sampai pacaran (walaupun udah putus sebulan lalu), dan yang penting futsal (terpujilah yang dulu buat futsal ini. hahaha...)
Oke, kali ini aku malas untuk menulis uneg-uneg ataupun tulisan menye-menye yang bisa buat orang yang ngebaca jadi galau. Walaupun si kecoak lasut ini emang lagi galau karena putus (yang sampai sekarang masih belum bisa move on) tapi tetep harus semangat. Kalau si kecoak tidak bisa move on, si galau yang harus move on. Hahaha...
Si kecoak lagi susah juga ini, IP yang mepet bikin aku harus kencangin ikat kepala dan menghadapi musuh lamaku, belajar, biar IP naik dan bisa pinter tentunya, banggain orang tua, dapat kerja yang layak, dapat duit banyak, dan dapat istri sekelas Dera Idol (untuk doa yang terakhir semoga keturutan. Amiin...)
Tapi ngomong-ngomong soal pintar, banyak orang tidak tahu pintar itu apa. Baiklah, aku akan coba mendefinisikan apa itu pintar, menurut otakku sendiri tentunya. Aku tidak akan ikut definisinya Bapak Wikipedia atau Mas Tony Blank dengan saparatozz-nya yang lho. Ini definisi berdasar pengalaman sendiri yang selalu sukses ngomongin ini itu yang berhasil buat otakku sakit.
Jadi pintar menurut aku adalah kalau kita punya teman orang bodoh. Kenapa? Karena eh karena, kita kelihatan pintar kalau teman-teman kita bodoh. Iya, kan? Hahahaha.. Ini definisi bukan sembarang definisi yang selalu sukses ngadalin teman satu rumah (like a boss banget dah. Hahaha...)
Tapi selidik punya selidik, punya otak pintar itu kebanyakan tidak memikirkan cewek. Aku jadi bingung, bagaimana orang pintar bisa hidup kalau mereka dekat dengan cewek saja jarang. Apa mereka mau jadi perjaka abadi? Menurut temanku sendiri, kumpulan-kumpulan orang pintar tu 50% anggotanya adalah homo, dan sisanya adalah pasangannya. Buset dah... Si kecoak cuma bisa berdoa saja, kalau sudah pintar tetap tidak lupa dengan orientasi seksualnya. Amiin....
Ya sudah, Cuma ini yang bisa ditulis si kecoak sekarang. Sudah waktunya kencan jam-jam sekarang ini. Mau tahu siapa kencannya? Namanya tugas kuliah. Jangan ngintip ya? Dia pemalu soalnya. Hahaha...

Saturday, October 29, 2011

UTS (Ujian Tanpa Semangat)

Beuh.. Gak kerasa besok sudah UTS. Padahal rasa-rasanya belum ada 3 bulan aku jadi mahasiswa, atau mungkin karena aku keseringan TA dan mbangke di kelas, pas bangun tiba-tiba udah 3 bulan kemudian. #ngaco_abiz.
Ya sudah.. Kita lihat saja gimana UTS-ku besok (gak penting banget dhim).. Doakan saya bisa. Bukan karena bisa ngerjain UTS, tapi bisa melek pas UTS. Amiin.. Semangat tidur, eh UTS!!!

Thursday, October 6, 2011

Asyiknya Naik Lift #DDP


Tidak semua pengalaman harus diambil dari bagaimana kita melangkah kedepannya, tapi bisa pula saat kita berjalan dan terus melangkah dan kita tiba-tiba berbalik, kita menemukan suatu pengalaman yang ternyata bisa membuat kita merasa senang dan sulit ini untuk melupakannya. Bersiaplah untuk menggeleng-gelengkan kepala, karena cerita ini baru saja kumulai.

Ya. Dimulai seperti biasa, aku melewati pintu lobi kampusku dengan langkah gontai. Hari yang biasa, suasana yang biasa, waktu yang biasa, tidak ada yang istimewa. Saat itu juga aku dipanggil temanku untuk mencoba naik lift. Maklum kami mahasiswa baru dan lift itu jarang dihidupkan, maka kami iseng-iseng mencobanya.

Kami mulai masuk ke lift seperti banteng dikejar singa, karena saking terburu-burunya. Lalu kami menekan tombol nomor 4, dan lift pun mulai merangkak naik. Kami yang di dalam lift hanya bisa tertawa terbahak-bahak karena keudikan kami sendiri. Ketika lift berhenti dan pintunya terbuka, berpasang-pasang mata dan mulut-mulut bengong diluar melihat sekawanan anak muda yang tertawa keras dari dalam lift. Sungguh memalukan sangat jika mengingat kejadian itu, tapi sudah kepalang tanggung, sudah malu juga, kami membiarkan orang-orang diluar melihat kami.

Seketika temanku langsung menutup lift dan mengarahkan liftnya ke basement untuk mengambil motor dan pulang. Di sepanjang turunnya lift, kami hanya bisa tertawa dan terus tertawa mengingat ketololan kami, dan sampai di basement pun kami masih tetap tertawa terbahak-bahak.

Baiklah, mungkin itu dulu pengalaman dariku. Lain kali akan kuceritakan pengalaman yang lain. Sekian dan terima kasih.

Saturday, July 17, 2010

Back to the blog



Hahahaii.. Lama juga aku gak aktif di blog. Selain alasan udah kelas 3 (yang masih males juga), ada alasan lain yaitu.. males. hahahaha.. Dan aku berterima kasih buat permen sunduk udah ngasih kabar dan ngirimi aku award. Walaupun gak begitu paham tapi okelah, aku pasang awardnya. sekali lagi makasih.. hihihii..

Recent Posts

About Me

My photo
Kenapa aku hidup? Hanya untuk numpang lewat..

Followers

JavaScript Free Code

Recent Comments